Cara Membaca Cuaca Alam dengan Mudah

cara membaca cuaca alam

Update Terakhir: 12 September 2022 oleh Abdul Jalil

Sekarang cuaca sudah tidak menentu. Berbagai cara untuk membaca dan mengetahui cuaca alam hari ini atau besok akan turun hujan atau tidak terus berkembang. Namun, bagaimana perkiraan cuaca seperti hujan akan turun hanya menggunakan tanda alam seperti orang zaman dahulu? Berikut adalah cara membaca cuaca menurut Baden Powell dan pranata mangsa (Jawa) dengan faktor yang menyebabkan cuaca bisa berubah.

Orang zaman dahulu menentukan dan mengetahui cuaca atau musim hari ini akan hujan atau tidak dengan cara membaca tanda dari alam. Namun, sekarang kita termudahkan untuk memperkirakan cuaca dengan cepat dan lumayan tepat menggunakan teknologi yang terhubung ke gawai.

Namun, bagaimana dengan kita sebagai Pramuka yang banyak mengandalkan alam sebagai penanda cuaca untuk mengetahui suatu hari akan turun hujan? Serta tanda apa saja yang harus kita ketahui dari alam untuk siap menerima cuaca panas, hujan atau berangin?

Untuk uraian selengkapnya tetap simak hanya pada artikel ini ya kak. Karena kami telah merangkumnya sepesial untuk kakak.

Sebelum jauh mengenal tanda alam sebagai cara untuk membaca dan mengetahui kondisi cuaca hari ini atau besok akan hujan atau tidak. Ada baiknya kita sama – sama mengenal definisi cuaca yang sederhana.

Pada dasarnya cuaca adalah kondisi atmosfer atau langit yang kadang mendung, hujan, atau panas. Namun, cakupan wilayah dan waktu cuaca tidaklah luas dan hanya berlangsung secara singkat.  

Simple Calculator Lite

Hal ini terjadi karena cuaca terbentuk dari beberapa unsur yang mempengaruhinya. Sehingga dalam waktu yang singkat pula cuaca masih bisa berubah.

Beberapa unsur yang menyebabkan cuaca bisa berubah pun menjadi objek penelitian oleh para ahli. Terutama sebagai objek penelitian agar dapat membaca cuaca dan tanda alam akan turun hujan atau tidak dengan cara yang tepat.  

Nah, uraian selengkapnya beberapa unsur pembentuk cuaca dan pengubah cuaca dapat kakak simak di bawah ini ya.

Baca Juga:

Faktor Yang Menyebabkan Cuaca Bisa Berubah

Berbagai macam faktor pembentuk dan yang menyebabkan berubah – ubahnya cuaca pada hari ini atau besok terdiri dari:

Suhu

Kondisi dingin atau panas permukaan bumi atau wilayah tertentu terjadi karena pengaruh suhu. Suhu sendiri terbentuk karena paparan sinar matahari pada wilayah tertentu dengan intensitas yang berbeda – beda.

Jika suatu kawasan atau tempat tertentu mendapatkan banyak sinar matahari maka suhu akan terasa panas. Sedangkan daerah yang sedikit mendapatkan sinar matahari cenderung terasa dingin.

Angin

Karena suatu wilayah mendapatkan paparan sinar matahari dengan intensitas yang berbeda – beda. Maka kondisi tersebut akan mempengaruhi pola cuaca di bumi karena adanya pergerakan angin.

Secara umum pergerakan angin terjadi karena perbedaan tekanan udara yang di sebabkan oleh paparan sinar matahari. Udara akan bergerak dari kondisi bertekanan tinggi atau dari suhu rendah. Kemudian bergerak ke wilayah dengan tekanan rendah dengan kondisi suhu tinggi. 

Selain itu, jenis angin juga berpengaruh untuk cuaca atau iklim yaitu angin musim, pasat dan angin lokal. Sehingga dalam teknologi canggih masa kini pun membaca pergerakan angin menjadi salah satu cara menentukan prediksi cuaca.

Kelembapan

Unsur yang berpengaruh besar pada kondisi cuaca selanjutnya ialah kelembapan. Kelembapan secara definisinya ialah banyaknya air yang terkandung dalam udara. Jadi, kondisi lembab atau keringnya suatu wilayah tersebabkan oleh kandungan air pada udara yang terus bergerak.

Awan

Salah satu cara untuk membaca cuaca alam akan turun hujan atau tidak secara sedergahan ada pada keberadaan awan mendung. Karena awan merupakan unsur cuaca yang terbentuk saat uap air mendingin di udara. Sehingga peristiwa tersebut dapat membentuk tetes air atau kristal es yang kecil.

awan dan langit cerah tanda hujan tidak turun dan angin yang menyebabkan cuaca bisa breubah
Pagi Dengan Awan Cerah – Unsplash

Curah Hujan

Unsur lain yang tidak kalah berpengaruhnya terhadap kondisi cuaca permukaan bumi adalah curah hujan.

Ketika udara lembap naik ke daerah yang tinggi maka udara akan mengalami kondensasi. Setelah terjadinya kondensasi udara akan membentuk tetes air yang menjadi awan. Air yang terkandung dalam awan akan jatuh dapat beruba wujud hujan air, es atau salju.

Baca juga:

Cara Membaca Cuaca Alam

Membaca cuaca menggunakan tanda – tanda dari alam sudah sering teraplikasikan oleh manusia sejak zaman dahulu. Apalagi zaman dahulu belum ada teknologi yang dapat membaca perkiraan cuaca hari ini atau besok seperti yang kita kenal.

Namun, kemampuan membaca cuaca berdasarkan tanda alam juga tidak kalah akurat. Sebab pengetahuan yang berdasarkan titen ini telah ada dari dulu dan sudah turun temurun. Serta menjadi bagian dari warisan budaya lokal oleh masyarakat setempat.

Baden Powell sebagai Bapak Pandu Dunia pun memperkirakan cuaca hari ini atau besok dengan mengenal tanda alam.

Tanda Alam Menurut Baden Powell

Menurut Baden Powell membaca perkiraan cuaca dengan tanda alam adalah cara terbaik ketika sedang berkemah di alam bebas. Tanda alam untuk menentukan cuaca cerah atau hujan yang paling mudah kita kenali adalah warna langit dan bentuk awan.

Adapun beberapa tanda – tanda cuaca yang menjadi patokan Baden Powell ketika berkemah terdiri dari:

  1. Langit yang berwarna merah pada malam hari menunjukkan bahwa cuaca cerah akan datang besok hari
  2. Langit yang berwarna merah pada pagi hari menandakan akan turun hujan
  3. Kuning saat matahari tenggelam berarti angin
  4. Kuning pucat saat matahari tenggelam berarti akan hujan
  5. Embun dan kabut pada dini hari menandakan cuaca baik
  6. Matahari yang terbit dari awan dengan posisi rendah menandakan cuaca akan baik
  7. Matahari terbit dari awan yang tinggi berarti angin
  8. Awan halus menandakan bahwa cuaca bagus
  9. Siang hari dengan awan berujung kaku menandakan angin
  10. Awan bergulung atau bergerigi menandakan angin kencang

Selain Bapak Pandu Dunia yang hebat karena dapat mengenal dan mengetahui cara membaca cuaca alam.

Masyarakat lokal Indonesia seperti Suku Jawa juga memiliki pengetahuan untuk mengetahui tanda alam dalam meprediksi cuaca dan musim. Seperti cara mengetahui tanda musim yang setiap hari akan turun hujan. Serta beberapa tanda alam lainnya untuk mengetahui musim dan cuaca yang akan tiba pada hari esok.

Membaca Cuaca Menurut Orang Jawa

Sejak ribuan tahun yang lalu masyarakat suku Jawa telah mengetahui cara membaca tanda alam penentu musim dan cuaca. Penentuan musim oleh orang Jawa pun tersusun dalam kalender khusus.

Kalender musim kepercayaan orang Jawa pun tidak kalah canggihnya dengan kalender bangsa Mesir Kuno, China Maya, dan Burna. Masyarakat Jawa pun mengenal kalender musim dengan nama Pranata Mangsa.

Pranata mangsa banyak di gunakan sebagai kalender musim orang Jawa sejak Raja Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono VII meresmikannya. Dan bertepatan pada tanggal 22 Juni 1855 Tujuan utama peresemian Pranata mangsa sebagai kalender musim untuk membuat masyarakat agar tidak bingung.

Terutama untuk menentukan musim berkebun dan melaut karena pada zaman dahulu masyarakat Jawa mengenal berbagai macam kalender.

pranata mangsa menurut orang jawa adalah
Pranata Mangsa Menurut Orang Jawa

Sehingga Raja berinisiatif meresmikan kalender pranata mangsa sebagai cara untuk membaca dan mengetahui musim dan cuaca berdasarkan tanda alam. Serta mengenal empat musim, yaitu hujan (rendheng), akhir musim hujan (mareng), kemarau (ketiga), dan awal musim hujan (labuh).

Agar lebih memudahkan masyarakat untuk mengidentifikasi periode setiap mangsa. Maka pranata mangsa pun sudah tersejajarkan dengan kalender Gregorius (Masehi) yang sudah terlebih dahulu di kenal.

Penggunaan pranata mangsa sebagai cara untuk menentukan cuaca berdasarkan tanda alam ini karena ada alasan yang kuat.

Masyarakat Jawa yang sangat percaya bahwa tanda alam termasuk dalam bagian keteraturan alam sebagai bagian dari lingkaran kosmos. Sehingga dari tanda – tanda alamlah hukum alam akan memberikan isyarat kepada manusia mengenai tata cara memperlakukan alam dan lingkungan.

Oleh karen itu, pranata mangsa merupakan synderesis dari lex naturalis (hukum alam) sebagai cara orang Jawa membaca hukum alam. Menjadi hukumnya orang Jawa (lex humana) yang menjadi pedoman sekaligus menjiwai untuk memprediksi cuaca dan iklim.

Tanda Alam Menurut Orang Jawa

Contoh tanda alam untuk membaca cuaca bahwa musim atau hari hujan akan turun adalah burung – burung sulit mencari makan. Perilaku tumbuhan seperti durian, nagka belanda, kelengkeng masih terus berbuah.

Nah, keberadaan pranata mangsa bagi orang Jawa sifatnya tidaklah kaku. Karena pada umumnya ada berbagai faktor yang menyebabkan cuaca bisa berubah. Oleh karena itu, ilmu lokal ini pun mengikuti sifat orang Jawa yang terbuka menyesuaikan keadaan alam.

Keberadaan pranata mangsa sebagai kalender musim ini pun hanya berlaku bagi orang Jawa. Sebab kalender ini ditetapkan berdasarkan peredaran matahari yang menyinari di Pulau Jawa.

Baca juga:

About Adha Susanto

Menyelesaikan studi di Universitas Diponegoro dan Racana Diponegoro dengan nama Pandega Bala Shark

View all posts by Adha Susanto →